Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Salah satu contoh adalah kulit lumba-lumba yang mampu memperkecil gesekan dengan air, sehingga lumba-lumba dapat berenang dengan sedikit hambatan air. Hal ini yang digunakan para perenang untuk merancang baju renang yang mirip kulit lumba-lumba.
Lumba-lumba memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar dari benturan. Teknologi ini kemudian diterapkan dalam pembuatan radar kapal selam. Lumba-lumba adalah binatang menyusui. Mereka hidup di laut dan sungai di seluruh dunia. Lumba-lumba adalah kerebat paus dan pesut. Ada lebih dari 40 jenis Lumba-lumba.
Bayi lumba-lumba yang baru lahir akan dibawa ke permukaan oleh induknya agar bias menghirup udara. Lumba-lumba perlu naik ke permukaan untuk bernafas supaya tetap hidup. Lumba-lumba bernafas melalui lubang udara yang terletak di atas kepalnya. Tubuhnya yang licin dan ramping sangat sesuai untuk berenang. Induk Lumba-lumba menyusui anaknya dengan susu yang gurih dan menyediakan energi bagi anaknya supaya cepat besar. Setiap anak lumba-lumba selalu berada di dekat induknya, sehingga ibunya bisa melindungi dari bahaya. Lumba-lumba selalu menjaga hubungan dengan anaknya hingga tumbuh semakin besar. Induk lumba-lumba memanggil anak anaknya dengan siulan khusus yang bisa mereka kenali.
Mengenai soal lumba-lumba, di pulau kiluan merupakan salah satu pulau di indoesia yang terletak di Kabupaten Tanggamus sebelah selatan Bandar Lampung yang terkenal dengan lumba-lumbanya. Disana menjadi habitat alami ratusan Lumba-Lumba yang tidak malu-malu berinteraksi dengan kita. Pantai Kiluan (Teluk Kiluan) di Tanggamus Lampung sekitar 3-4 jam perjalanan darat dari Ibukota Bandar Lampung melalui Teluk Betung - Lempasing - Pesawaran - Pangkalan AL - Kelumbayan (Ds. Bawang) - Teluk Kiluan.Perjalanan menuju kesana terasa seperti petualangan tersendiri, dengan jalan yg cukup bagus tp hanya sampai dengan Pangkalan AL.sepanjang perjalanan kita akan ditemani pemandangan yang indah dgn hamparan sawah, tambak, pantai yg indah dan rumah-rumah tradisional khas Lampung dan Bali (pendatang dari Sunda, Jawa dan Bali.
Sebelum kita pergi berburu lumba-lumba, hendaknya kita menginap terlebih dahulu di rumah pak dirham yang terletak di pulau kiluan tersebut. Dimana rumah tersebut memang sengaja untuk disewakan pada pengunjung yang ingin menginap disana baik bagi pengunjung yang ingin berburu lumba-lumba ataupun untuk snorkeling atau yang lainnya. Rumah tersebut cukup sederhana, terdapat 6 kamar tidur, 1 dapur, dan dibelakangnya juga terdapat 2 buah kamar mandi.
Lumba-lumba tersebut biasanya berkumpul pada pagi hari sekiltar pukul 9-10an. Oleh sebab itu sebelum jam 7 (tujuh) pagi, kita harus sudah bersiap-siap karena nanti kita akan melampaui perjalanan yang cukup jauh selama kurang lebih 30 menit. Selama persiapan tersebut kita juga akan di pinjami pelampung untuk keselamatan. Setelah persiapan selesai kita akan menaiki perahu bercadik yang nantinya akan menyelusuri sepanjang pantai hingga menemukan segeroimbolan lumba² tersebut. Dimana perahu-perahu bercadik tersebut dimiliki oleh penduduk warga sekitar yang nantinya akan membawa kita meuju ke tengah laut untuk melihat tarian-tarian lumba-lumba yang sangat indah.
Selama perjalanan untuk berburu lumba-lumba kita juga dapat melihat berbagai pemandangan alam yang menarik, misalnya seperti karang-karang yang tampak di permukaan laut, laguna, dan pemandagan indah lainnya.
Setelah sekitar kurang lebih 30 (tiga puluh) menit berperahu, kita dapat melihat melihat segerombolan lumba-lumba tersebut. Akan tetapi selama perburuan lumba-lumba tersebut hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya. Karena dalam perburuan lumba-lumba tersebut kita harus sabar dan terus mencari di sebelah mana lumba-lumba tersebut akan muncul. Dalam hal ini pada saat perburuan lumba-lumba tersebut pada saat kami mencari dalam 10 perahu di berangkatkan, hanya 3 buah perahu yang berhasil melihatnya. Karena sebagian besar orang sudah mengalami titik jenuh selama perburuan tersebut yang dimana di sebabkan oleh sebagian dari awak kapal yang belum terbiasa pergi berlayar di tengah laut yang dimana awak kapal tersebut banyak yang mengalami mabuk laut. Padahal untuk melihat lumba-lumba tersebut, kita harus mempunyai daya tahan tubuh yang extra dan harus sabar dalam pencarian tersebut.
